Header Ads

Ad Home

Plasma Darah Pasien Sembuh COVID-19 Diduga Berpotensi Jadi Obat Corona

Plasma Darah Pasien Sembuh COVID-19 Diduga Berpotensi Jadi Obat Corona
RepublikRI - Sejumlah peneliti di Amerika Serikat sedang menguji coba pengobatan penyakit COVID-19 lewat metode transfusi plasma darah milik pasien yang sembuh dari virus corona. Plasma darah milik para penyintas COVID-19 dianggap mengandung antibodi yang dapat melawan infeksi virus tersebut.  

Metode pengobatan transfusi plasma darah ini sudah mendapat lampu hijau dari Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan (Food and Drug Administration/FDA) Amerika Serikat. Sejumlah rumah sakit di New York dan Houston juga telah menjajaki pengobatan tersebut.  

Menurut peneliti Washington University School of Medicine, Jeffrey Henderson, transfusi plasma darah sebetulnya bukan ditujukan untuk mengobati pasien COVID-19, namun untuk mengurangi tingkat keparahan yang diakibatkan penyakit tersebut. Sebab, sampai saat ini, para ilmuwan belum menemukan vaksin atau obat yang teruji untuk menangkal virus SARS-CoV-2. 

“Saat sebuah wabah penyakit baru muncul dan ilmuwan masih kesulitan menemukan vaksin atau obat, transfusi plasma darah menjadi pengobatan sementara yang dapat kami lakukan dengan cepat,” ujar Dr Jeffrey Henderson, peneliti dari Washington University School of Medicine, seperti diberitakan Associated Press.  

Pendapat serupa disampaikan Rebecca Halley, peneliti dari Bloodworks Northwest, sebuah lembaga penelitian kesehatan sekaligus bank darah di Seattle. Menurutnya, sejauh ini pengobatan transfusi darah merupakan salah satu bentuk pengobatan yang paling aman digunakan.

Meski demikian, ia menambahkan bahwa para dokter masih belum tahu sejauh mana antibodi milik penyintas COVID-19 efektif melawan virus SARS-CoV-2.
Virus corona di Amerika Serikat


Petugas rumah sakit mengecek kesehatan para pengendara di Indian Wells, California, AS, 26 Maret 2020. Foto: REUTERS/Lucy Nicholson
Eksperimen metode transfusi plasma darah mendapat respons positif dari publik di Amerika Serikat. Berdasarkan data Michigan State University, sudah lebih dari seribu penyintas COVID-19 mendaftarkan diri ke National COVID-19 Convalescent Plasma Project untuk mendonorkan darah mereka.

Belasan rumah sakit juga sudah berencana melakukan penelitian lebih lanjut. Sementara Palang Merah Amerika Serikat akan membantu pengumpulan dan distribusi plasma darah ke berbagai rumah sakit.

Peneliti National Institutes of Health, Julie Ledgerwood, mengatakan para penyintas yang ingin mendonorkan darah mereka harus menjalani tes untuk membuktikan tubuh mereka sudah tidak terinfeksi virus SARS-CoV-2 sama sekali. Mereka juga harus berada dalam kondisi kesehatan prima dan menjalani tes tambahan untuk menilai seberapa kuat level antibodi yang mereka miliki.

“Kami tidak mau mengambil plasma darah dari orang-orang yang punya respons imun yang biasa-biasa saja,” ujarnya.
Salah satu pendonor plasma darah pertama ialah Tiffany Pinckney. Ia masih ingat ketakutan yang dirasakan ketika mengalami sesak napas akibat terinfeksi COVID-19. Saat sudah pulih, perempuan asal New York ini menjadi salah satu penyintas pertama yang mendonorkan darahnya untuk mengobati pasien COVID-19 lain.

“Saya tentu merasa bahagia begitu mengetahui bahwa darah saya (penyintas COVID-19) mungkin dapat memberi jawaban,” ujarnya, seperti diberitakan Associated Press.

Terapi transfusi darah dikenal dengan "plasma konvalesen". Plasma darah milik pasien yang sembuh diambil karena mengandung antibodi penangkal virus corona SARS-CoV-2, penyebab penyakit COVID-19. Para dokter mengumpulkan plasma darah atau bagian cair dari darah, termasuk sel-sel darah atau trombosit dari penyintas COVID-19.

Antibodi ini dapat ditemukan di dalam plasma darah para penyintas selama beberapa bulan atau beberapa tahun setelah mereka dinyatakan sembuh.


Pengobatan transfusi darah pasien pernah digunakan untuk mengobati pasien pandemi Flu Spanyol di tahun 1918. Selain itu, metode ini juga digunakan untuk mengobati wabah campak, pneumonia, dan penyakit akibat infeksi lain.

Meski demikian, pengobatan dengan metode transfusi darah terhadap pasien COVID-19 masih perlu diteliti lebih lanjut. Sebab, penelitian yang sudah dilakukan masih sangat terbatas.

***
Baca Juga

Diberdayakan oleh Blogger.