Header Ads

Ad Home

Pertamina Rugi, Menteri ESDM: Masih Bisa Dimaklumi

Kerugian yang dialami PT Pertamina (Persero) hingga mencapai 767,92 juta dolar AS atau setara Rp 11,33 triliun dinilai maklum.

RepublikRI - Kerugian yang dialami PT Pertamina (Persero) hingga mencapai 767,92 juta dolar AS atau setara Rp 11,33 triliun dinilai maklum.

Demikian disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif saat rapat dengar pendapat bersama Komisi VII DPR RI, Rabu (26/8).

Menurut Arifin Tasrif, besarnya kerugian di perusahaan minyak milik negara itu akibat sentimen negatif pandemik Covid-19. hal itu menjadi maklum lantaran seluruh perusahaan mengalami tekanan.

“Kita bisa memakluminya karena semua perusahaan terdampak, tapi secara perhitungan nanti mungkin dengan yang menghitung yang bisa memberikan angkanya,” ujar Arifin di Gedung Nusantara I, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta.

Kerugian perusahaan minyak negara tersebut belakangan banyak dikaitkan dengan kebijakan tidak menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) meski harga minyak mentah dunia mengalami penurunan akibat pandemik Covid-19.

Namun dalam pertimbangannya, Arifin tidak mau menumbalkan Pertamina dengan menurunkan harga. Hal itu semata-mata dikarenakan adanya penurunan permintaan BBM serta melemahnya nilai tukar rupiah di kuartal kedua kemarin akibat hantaman keras wabah dari Wuhan China itu.

“Ya memang kita ketahui minyak turun, kurs juga terguncang. Walaupun harga minyak tidak turun, konsumsi tidak seperti semula,” tandasnya.

Di sisi lain, Direktur Keuangan Pertamina, Emma Sri Martini menjelaskan ada tiga faktor yang menyebabkan kerugian Pertamina di semester pertama tahun 2020. Faktor pertama karena adanya penurunan permintaan pasar.

Nilai tukar rupiah menjadi faktor kedua. Pasalnya, laporan keuangan secara fundamental di Pertamina merujuk pada pembukuan dengan nilai mata uang dolar Amerika Serikat. Hal itu menyebabkan komposisi rugi kurang lebih 30-40 persen dari kerugian Pertamina.

“Yang ketiga ini terkait dengan crude. Dengan melemahnya crude price di second quarter menyentuh angka 19 sampai 20 dolar AS perbarel. Dibandingkan posisi Desember 2019 63 dolar AS perbarel kita sangat terdampak sekali pada margin hulu. Padahal margin hulu penyumbang atau kontributor ebitda terbesar 80 persen,” jelas Emma Sri Martini. (Rmol)

Baca Juga

Diberdayakan oleh Blogger.