Header Ads

Ad Home

2 Polisi Retak Tulang Pipi-Rahang Saat Rusuh Massa di Kendari, Akan Dibedah

2 Polisi Retak Tulang Pipi-Rahang Saat Rusuh Massa di Kendari, Akan Dibedah

RepublikRI - Dua anggota polisi menjadi korban luka saat mengamankan demo yang berujung rusuh di Kendari, Sulawesi Tenggara. Dua polisi itu kini dirawat di RS Bhayangkara.

"Anggota kami 2 yang luka ya dirawat," kata Kabid Humas Polda Sultra Kombes Ferry Walintukan saat dimintai konfirmasi detikcom, Jumat (18/9/2020).

Dua polisi itu masing-masing retak tulang pipi dan rahang bawah. Mereka rencananya akan menjalani operasi bedah.

"Agak lumayan parah, hasil scan-nya satu personel kita yang fraktur tulang pipi kiri, yang satu lagi hasil scan-nya fraktur rahang bawah. Rencananya akan dibedah plastik," ujarnya.

"Iya (retak), seperti itulah. Padahal kita mengamankan, tapi kita yang jadi korban," imbuhnya.

Dua polisi itu diduga kena lemparan batu. Pelaku pelemparan masih diselidiki polisi.

"Lemparan batu. Kalau pukulan nggak sampai gitu," tuturnya.

Sebelumnya, viral video sekelompok massa di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), turun ke jalan. Aksi mereka membuat lalu lintas macet. Massa terlihat berlarian di jalan raya.

Beberapa orang dari massa tersebut tampak membawa tongkat dan memukulkan tongkat tersebut ke papan toko, umbul-umbul di jalan raya. Beberapa orang lainnya membawa bendera kelompoknya, ada juga yang membawa bendera Merah Putih.

"Salah satu ormas demo, dari Generasi Muda Tolaki Sulawesi Tenggara, jumlahnya sekitar 100-200 orang," kata Kabid Humas Polda Sultra Kombes Ferry Walintukan saat dimintai konfirmasi detikcom, Kamis (17/9).

Ferry menyebut demo itu terjadi sekitar pukul 14.00-15.00 Wita. Pedemo melayangkan tuntutan kepada polisi agar segera menuntaskan kasus penghinaan terhadap masyarakat adat Tolaki dan intimidasi terhadap seorang ustaz di Kolaka. Massa juga menuntut Kapolda Sultra menemui mereka di perempatan jalan.

"Mereka tuntutannya minta supaya kasus-kasus yang ada di Kendari, kan ada beberapa kasus seperti ada dugaan penghinaan terhadap masyarakat Tolaki, ada yang sudah diproses, ada yang (pelakunya) anonimus, ada yang masih penyelidikan. Dan kasus yang di Kolaka, yang ustaz di Kolaka, mereka minta supaya di proses dan jangan terulang lagi adanya penghinaan-penghinaan," jelas Ferry.

"Sesudah itu mereka minta ketemu sama Kapolda di perempatan itu Demo tidak ada STTP (Surat Tanda Terima Pemberitahuan)-nya, tapi tetap kami kawal oleh personel Polres Kendari. Ya gimana, demo tidak ada STTP, lalu minta Kapolda datang," lanjut Ferry.[]


Ikuti @RepubikRI Ikuti @RepubikRI