Header Ads

Ad Home

Kasus Pembunuhan Guru, Macron : Para Islamis Tidak akan Pernah Tidur Nyenyak di Prancis

Presiden Prancis Emmanuel Macron telah mengadakan pertemuan dewan pertahanan menyusul serangan mematikan terhadap seorang guru sejarah di pinggiran kota Paris yang terjadi pada Jumat, 16 Oktober lalu.

RepublikRI - Presiden Prancis Emmanuel Macron telah mengadakan pertemuan dewan pertahanan menyusul serangan mematikan terhadap seorang guru sejarah di pinggiran kota Paris yang terjadi pada Jumat, 16 Oktober lalu.

Menurut laporan BFMTV, dalam pertemuan itu, Presiden Macron mengatakan para islamis tidak akan mendapat perdamaian tinggal di Prancis.

"Para Islamis tidak akan tidur nyenyak di Prancis. Ketakutan akan berpindah sisi," kata Macron dalam pertemuan yang diadakan Minggu malam, dikutip Pikiran-Rakyat.com dari Sputnik News.

Laporan media Prancis menyebutkan mulai Senin, 19 Oktober 2020 pemeriksaan akan dilakukan terhadap penulis 80 postingan di media sosial yang menyatakan dukungan untuk penyerang.

Sebelumnya, ribuan orang berkumpul di seluruh Prancis sebagai solidaritas terhadap guru yang tewas dipenggal oleh seseorang yang diidentifikasi pria imigran Chechnya.

Guru bernama Samuel Paty (47) diserang dan kepalanya dipenggal oleh seorang pengungsi berusia 18 tahun.

Serangan itu terjadi setelah Paty menunjukkan karikatur Nabi Muhammad kepada murid-muridnya di sebuah sekolah di Conflans-Sainte-Honorine, barat laut Paris.

Pembunuhnya, yang diidentifikasi bernama Abdullakh Anzorov, ditembak mati oleh polisi Prancis tak lama setelah serangan itu.

Menurut laporan media Prancis, 11 orang, termasuk empat anggota keluarga penyerang ditahan sebagai bagian dari penyelidikan yang sedang berlangsung.

Juru bicara Kedutaan Besar Rusia di Prancis, Sergey Parinov mengatakan pelaku telah tinggal di Prancis bersama keluarganya sejak tahun 2008. Pelaku sendiri menerima izin tinggal setelah mencapai usia 18 tahun.

Menurut jaksa Prancis, pelaku lahir di Moskow pada tahun 2002 yang berasal dari Chechnya, dan telah menerima status pengungsi di Prancis.

Pemimpin Chechnya Ramzan Kadyrov mengutuk serangan terhadap guru bahasa Prancis itu. Dia mendesak penyelidik Prancis untuk tidak mencari 'jejak Chechnya' dalam serangan itu, dan menekankan bahwa penyerang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya dan kemungkinan besar radikal di Prancis.***


Ikuti @RepubikRI Ikuti @RepubikRI