Header Ads

Ad Home

Pendukung Jokowi Lain ke Pelapor Najwa: Tempurung Kepalamu Tak Sebesar Apa yang Dipamerkan

Pendukung Jokowi Lain ke Pelapor Najwa: Tempurung Kepalamu Tak Sebesar Apa yang Dipamerkan

RepublikRI - Najwa Shihab dilaporkan oleh Ketua Relawan Jokowi Bersatu, Silvia Devi ke Polda Metro Jaya atas unggahan video 'wawancara kursi kosong' beberapa waktu lalu.

Terkait Najwa Shihab yang dipolisikan, berbagai pihak menunjukkan dukungannya pada jurnalis yang akbrab disapa Nana itu.

Tak sedikit yang siap 'pasang badan' jika Nana terpaksa harus berurusan dengan polisi.

Namun, menurut informasi terkini polisi menolak laporan Relawan Jokowi Bersatu dan menganjurkan Silvia berhadapan dengan Dewan Pers.

Menanggapi hal tersebut, Sekjen DPN Pergerakan Indonesia, Abi Rekso Panggalih angkat bicara.

Sebagaimana diberitakan artikel sindikasi Wartaekonomi.co.id dari Viva dalam judul "Sama-Sama Pendukung Jokowi, Abi Rekso Skakmat Pelapor Najwa Shihab", Abi juga diketahui sebagai pendukung Jokowi sejak 2014.

Dia menyesalkan tindakan Silvia Devi karena melaporkan Najwa Shihab ke polisi yang disampaikannya melalui surat terbuka.

"Saya menduga tempurung kepala Anda tidak sebesar apa yang Anda pamerkan dalam ruang publik. Bisa jadi beberapa hari ini Anda merasa sebagai pahlawan buat banyak orang. Padahal sebenarnya, Anda sedang mengemis tepuk tangan kosong publik. Anda berdoa bukan kepada Tuhan, tetapi kepada kebodohan itu sendiri. Mengkultuskan diri sendiri agar merasa layak disembah," tulisnya melalui surat terbuka kepada Silvia Devi Soembarto, Rabu 7 Oktober 2020.

Ia mengikuti gelombang pembicaraan publik terkait bangku kosong Najwa Shihab. Meskipun ia menilai apa yang dilakukan Najwa Shihab tentu di luar kepantasan, dalam etika jurnalisme. Tetapi, pelapor juga harus sadar dan paham di situlah sisi banalisme sebuah profesi jurnalisme.

Di sisi lain ada kebutuhan dalam ruang demokrasi, tetapi kata Abi Rekso, kadang jurnalisme mampu mengorbankan pihak tertentu yang dilakukan oleh individu.

"Namun begitu, yang perlu saudari mengerti bahwa seperti itulah pertarungan diskursus dalam medan jurnalisme. Saya belum ingin mengajarkan Anda soal etimologi diskursus publik. Namun, lapangkan pikiran Anda untuk bercermin dalam segala tindakan Anda," ujarnya.

Dalam konteks pelaporan Najwa ke polisi, Abi mengingatkan bahwa dalam prinsip peradilan, yang ujungnya mencari kebenaran formil dan materiil. Kebenaran formil adalah sebuah pembuktian 'kejahatan' dengan bukti dan saksi yang jelas tanpa perlu merujuk pada keyakinan hakim.

"Artinya, jika melihat dari pelaporan saudari saya atau publik tidak melihat adanya bukti kuat dalam kasus 'Bangku Kosong Najwa Shihab," kata Abi.

Dari sisi kebenaran materil adalah kebenaran yang diungkap dengan proses hukum yang benar. Artinya, penyelengaraan peradilan yang seadil-adilnya hingga jatuhnya putusan yang berkonsekuensi hukum pada subjek hukum.

"Nah, apalagi dalam konteks ini, bagaimana sebuah peradilan hukum mengadili diskursus publik, di mana tidak ada informasi bohong di sana? Sangat mengada-ada," terang Abi.

"Jikapun saudari atau teman Anda berdalih bahwa pelaporan ini bersifat ajudikasi. Itu juga makin keliru dan bodoh. Karena Anda dan teman-teman anda yang melaporkan ini bukan atau tidak sama sekali mewakilkan Menteri Terawan sebagai pihak pelapor. Dan bagaimana mungkin sebuah acara TV dianggap persengketaan?" lanjutnya.

Abi Rekso tak habis pikir dengan klaim Silvia yang mengakui secara arogan mendukung Jokowi saat melaporkan kasus 'Bangku Kosong' Najwa Shihab ke polisi. Meskipun sama-sama sebagai pendukung Jokowi, bedanya ia mendukung Jokowi dengan pikiran sedangkan, Silvia mendukung dengan kearoganan.

Baginya, melihat perbedaan sikap adalah sebagai satu kebesaran, sementara Silvia memaknai itu dengan kebencian. Terlebih dari semua tindak-tanduk yang dilakukan Silvia bukannya membuat publik bersimpati, melainkan banyak yang antipati sekalipun mereka diam.

"Yang lebih buruk adalah karena orang seperti Anda maka pendukung Jokowi akan ditakar sama persis dengan isi bejana akal saudari Silvia. Tentu saya dan pendukung Jokowi yang beralur pikir sama seperti saya, akan sangat keberatan jika harus disejajarkan dengan Anda," terang Abi Rekso.

"Jikapun saudari atau teman Anda berdalih bahwa pelaporan ini bersifat ajudikasi. Itu juga makin keliru dan bodoh. Karena Anda dan teman-teman anda yang melaporkan ini bukan atau tidak sama sekali mewakilkan Menteri Terawan sebagai pihak pelapor. Dan bagaimana mungkin sebuah acara TV dianggap persengketaan?" lanjutnya.

Abi Rekso tak habis pikir dengan klaim Silvia yang mengakui secara arogan mendukung Jokowi saat melaporkan kasus 'Bangku Kosong' Najwa Shihab ke polisi. Meskipun sama-sama sebagai pendukung Jokowi, bedanya ia mendukung Jokowi dengan pikiran sedangkan, Silvia mendukung dengan kearoganan.

Baginya, melihat perbedaan sikap adalah sebagai satu kebesaran, sementara Silvia memaknai itu dengan kebencian. Terlebih dari semua tindak-tanduk yang dilakukan Silvia bukannya membuat publik bersimpati, melainkan banyak yang antipati sekalipun mereka diam.

"Yang lebih buruk adalah karena orang seperti Anda maka pendukung Jokowi akan ditakar sama persis dengan isi bejana akal saudari Silvia. Tentu saya dan pendukung Jokowi yang beralur pikir sama seperti saya, akan sangat keberatan jika harus disejajarkan dengan Anda," terang Abi Rekso.

Metode genius wanita ini mengejutkan dan pasangan menjadi lebih

Ternyata, ini penyebab pasangan Anda susah untuk .....

Pria ini mampu membuat pasanganya merasakan kedekatan yang luar biasa dengan teratur

Сara mudah mengajak pasangan lebih dekat setelah lama tidak ...

"Secara jujur saya katakan, tindakan ini membangun pusat-pusat kebodohan baru dalam pergaulan pendukung Jokowi. Lebih-lebih secara norak Anda bersolek di belakang embel-embel pendukung Jokowi," imbuhnya.

Melalui surat terbuka ini, dia memohon kepada para pendukung Jokowi agar tidak mudah terseret dalam gulungan ombak kebodohan ini.

"Semoga saudari Silvia Devi Soembarto bukan saja melapangkan hati, tetapi juga kembali mendalamkan pikiran agar tidak mencoreng nama baik Presiden Jokowi dengan tindakan yang bodoh," tutupnya.***(Puri Mei Setyaningrum/Wartaekonomi.co.id)


Ikuti @RepubikRI Ikuti @RepubikRI